SEJARAH

SEJARAH SINGKAT TENGARAN

Kecamatan Tengaran adalah salah satu Desa yang terletak di desa Tengaran Kabupaten Semarang. Lokasinya berada di Lereng Gunung Merbabu, di antara Boyolali dan Salatiga.

Penamaan Kecamatan Tengaran yang terletak di Desa Tengaran konon berasal dari nama Desa Tengaran sendiri, dan Nama Desa Tengaran berasaal dari nama Ki Tengaran yang merupakan kepala Desa (kades) setempat pada masa dahulu kala. Tidak ada petilasan pasti atau prasasti tentang asal-usul nama desa ini. Cerita yang berkembang hanya dari mulut ke mulut.

Desa Tengaran ini awalnya bernama Desa Kaliwuru. Kepala Desa Kaliwuru ketika itu adalah Ki Tengaran.  Ki Tengaran ini adalah seorang yang terkenal sakti mandraguna. Ia sangat bijaksana tahu akan kebutuhan rakyatnya. Kehidupan masyarakat pada saat itu sangat tentram dan damai. Bila rakyatnya mendapat gangguan dari mana pun termasuk begal, rampok atau gangguan yang lain, Ki Tengaran akan tampil di depan membela rakyatnya.

Kesaktiannya dibuktikan ketika sebuah pusaka dari Kerjaan Singosari hilang, Ki Tengaran ini mampu menemukan. Sebelumnya dilakukan sayembara oleh pihak kerjaan.
“Pada suatu hari, hilangnya pusaka itu karena terjadi pencurian. Pusaka itu bernama Kiai Kurbakur. Pusaka itu merupakan sebuah keris luk 13 yang dari pangkal ke ujungnya berlapis emas. Seluruh punggawa kerajaan dikerahkan untuk mencari keberadaan pusaka itu,” katanya.

Maka, dengan kesaktiannya, Ki Tengaran berhasil menemukan keris itu. Ki Tengaran berhasil merebut pusaka itu dari tangan pencuri yang bernama Ki Gologito dari Gunung Merbabu. Apa daya, ketika pusaka itu berada di tangan Ki Tengaran, lantas terjatuh ke tanah dan berubah menjadi ular ajaib yang besar dan dapat berbicara. Semakin lama, ular membesar. Ular berkata, ia itu tidak mau dikembalikan ke keraton.

“Akhirnya Ki Tengaran memukul ular itu dengan senjata sodo lanang agar ular tidak membahayakan warga. Ular pun mati, dan konon tubuhnya meliuk-liuk dengan ukuran dua kilo meter. Posisi ular dari jembatan kembar Sungai Serang di sebelah timur sampai Dusun Poncol. Lidahnya menjulur menjadi sawah,” terangnya.  

Sampai sekarang konon ceritanya orang dusun Poncol, Desa Klero tidak berani membuat sumur. Karena yang keluar bukannya air tetapi darah.

Atas kejadian itu, maka Ki Tengaran melaporkan ke pihak kerajaan yang mengadakan sayembara. Maka Sang Raja berjanji jika kelak Desa Kaliwuru itu menjadi ramai, maka dinamakan Desa Tengaran sesuai nama Ki Tengaran itu. Maka sejak itu nama desanya menjadi Desa Tengaran.